Harga Rokok Bakal Naik Awal Februari 2021

Harga Rokok Bakal Naik Awal Februari 2021

12 Desember 2020, 8:35 PM
Ilustrasi rokok. (FOTO: PIXABAY)

Seberita.Online, JAKARTA - Pemerintah RI   bakal menaikkan  tarif cukai rokok pada Februari 2021 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, tarif cukai rokok tahun depan bakal naik sebesar 12,5 persen.

"Kita akan menaikkan cukai rokok dalam hal ini sebesar 12,5 persen," kata Sri Mulyani dalam keterangan pers yang disampaikan secara virtual, Kamis (10/12/2020) kemarin.

Kenaikan tarif cukai ini seperti dikutip dari bisnis.com, bertujuan untuk mengendalikan konsumsi rokok, khususnya pada anak dan remaja. Selaras juga dengan visi dan misi Republik Indonesia, yaitu menciptaskan SDM unggul untuk Indonesia Maju.

Senada dengan hal itu, pemerintah tulis BBC Indonesia, terus berupaya untuk mengendalikan prevalensi konsumsi merokok di kalangan masyarakat Indonesia dengan menaikkan cukai rokok setiap tahunnya. Sejak 2017, secara rata-rata pemerintah menaikkan tarif cukai rokok sebesar 11 persen.

Lebih jauh BBC Indonesia mengungkap bahwa menurut laporan Bank Dunia, dengan kenaikan cukai rokok yang konsisten di dalam negeri keterjangkauan harga rokok turun 10,2 persen sepanjang 2011-2017. Lebih lanjut Bank Dunia menyebut bahwa pada 2013-2016 jumlah perokok di Indonesia turun dari 36,3 persen menjadi 32,8 persen.

Lalu benarkah kebijakan ini bakal efektif? Salah seorang dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Makassar (UNM), Dr. Bahri, S.Pd., M.Pd saat dihubungi Seberita via WhatsApp, Sabtu (12/12/2020) mengatakan berapapun harga rokok tetap akan terbeli.

"Bagi yang sudah kecanduan, berapapun harga rokok akan terbeli juga. Bahkan mungkin berpikir akan mengurangi alokasi dana untuk kebutuhan lain demi membeli rokok", ungkapnya.

Selain itu, lanjut Ketua Program Studi Sejarah UNM ini, bisa juga bermigrasi ke rokok lain yang mungkin lebih murah dari rokok yang sebelumnya diisap sebelum kenaikan  bea cukai rokok tahun 2021.

 

Sementara itu, menurut pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palopo, Sudirman, S.Ag., M.Pd yang dihubungi terpisah menyatakan kebijakan ini tidak efektif.(mg/sb)

 


TerPopuler